Beranda arrow Arsip Berita arrow Berita Media arrow Presiden Minta Operasi Pengamanan Dilanjutkan

Presiden Minta Operasi Pengamanan Dilanjutkan

Cetak E-mail
Ditulis Oleh Kompas, 9 Maret 2010   
Rabu, 10 Maret 2010
Jakarta, Kompas - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono secara khusus menginstruksikan jajaran pengamanan untuk melanjutkan operasi pengamanan di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam sehingga ancaman terorisme dapat dihapuskan. Kondisi keamanan NAD pascaperdamaian beberapa tahun lalu harus dipertahankan dan jangan sampai terganggu lagi.

Instruksi Presiden Yudhoyono itu diungkapkan Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto menjawab pers, seusai mengikuti rapat internal yang dipimpin Presiden Yudhoyono di Istana Negara, Jakarta, Senin (8/3). ”Ya, ada instruksi khusus dari Presiden soal pengamanan Aceh supaya diteruskan hingga tuntas. Jangan sampai terganggu lagi kondisi yang sudah ada selama ini akibat ancaman (terorisme) itu,” tutur Djoko tanpa merinci instruksi khusus tersebut.

Tentang dugaan keterlibatan unsur asing dalam gangguan terorisme, Djoko menyatakan masih diselidiki. ”Ada 21 orang yang sudah tertangkap. Itulah yang masih ditelusuri siapa saja yang terlibat.”

Namun, Djoko mengakui, para tersangka terorisme itu berasal dari sejumlah daerah di Indonesia, di antaranya dari Pandeglang, Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Tengah.

Di tempat yang sama, Kepala Kepolisian Negara RI Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri menolak menjelaskan soal gangguan terorisme di NAD. ”Jangan mengada-ada soal itu (keterlibatan asing). Saya akan jelaskan secara menyeluruh. Nanti saya jelaskan. Penindakan yang dilakukan Polri tidak hanya di satu tempat. Oleh karena itu, nanti saya jelaskan menyeluruh,” kata Kepala Polri.

Sementara Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso mengakui, untuk mengantisipasi gangguan terorisme di Selat Malaka, TNI AL telah berkoordinasi dengan Badan Intelijen Strategis (Bais) TNI. ”Armada TNI AL Bagian Barat (Armabar) sudah merespons jika ada gangguan terorisme di kawasan tersebut. Jadi, tidak ada masalah. Armabar akan mendeteksinya secara dini,” kata Djoko.

TNI menunggu

Markas Besar Tentara Nasional Indonesia menyatakan hanya akan mengambil posisi menunggu sambil terus mengikuti perkembangan situasi di lapangan sehingga jika sewaktu-waktu diminta ikut turun tangan mereka sudah siap.

Hal itu disampaikan Kepala Pusat Penerangan Tentara Nasional Indonesia Marsda Sagom Tamboen kepada pers, Senin, tentang kontak senjata antara pihak kepolisian dan kelompok teroris di wilayah Kabupaten Aceh Besar, NAD.

Warga sekitar lokasi kontak tembak antara polisi dan kelompok teroris di Kemukiman Lamkabeu, Desa Bayu dan Ayon, Kecamatan Seulimeum, Kabupaten Aceh Besar, hingga Senin masih merasa ketakutan dan trauma. Akibatnya, warga desa yang umumnya bertani takut untuk berladang atau menggarap sawah.

”Dari pagi sampai sore, kami hanya duduk-duduk di meunasah (mushala). Paling siang pulang ke rumah untuk makan. Terus balik lagi ke meunasah. Kami tak berani pergi ke sawah atau ladang,” tutur salah seorang warga Desa Bayu, Nasfi. (BIL/DWA/HAR)
Comments (0)Add Comment

Write comment
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley

security code
Write the displayed characters


busy